Tuesday, June 11, 2019

Traveler Bersaudara - Monumen Rawagede, Karawang

2 Januari 2019

Perkenalkan, Duo Sasmita yang sama-sama hobi traveling. Hihi.
Modal tenaga dan nekad sebenernya. Urusan makan dan uang mah pasti ada aja rejeki. Halah sombong. Haa.

Kali ini kami yang cuma berdua ini (yang paling kecil masih usia lima tahunan, belum bisa bikin Trio) akan menjelajahi Karawang kota nih (ga bisa disebut Kota Karawang karena Karawang itu Kabupaten ya gaes, JFYI biar ga salah).

Kalo boleh jujur, sebenernya niat awal tuh mau ke Curug Cigentis, air terjun yang ada di daerah Loji, Karawang. Berhubung dari rumah ada panggilan masuk dan mesti pulang secepatnya, kami pun balik kanan grak setelah mampir sebentar di Islamic Center.

Di perjalanan pulang, daripada ga ada foto liburan padahal udah jauh-jauh ke kota nih ya, akhirnya kami memutuskan untuk belok sebentar ke Monumen Rawagede. Itu loh, yang isinya menceritakan kisah perjuangan Karawang - Bekasi yang tertuang di puisinya Chairil Anwar.
Ngapain? Ya ga tau. Ini kali pertama kami kesana. Sekalian mau cari tau.


Biaya masuk cuma Rp2.000/orang plus parkir Rp3.000/motor.
Baru pertama menginjakkan kaki melewati gerbang, kita bakal disuguhkan pemandangan tangga menuju lantai atas kayak di gambar. Mau naik boleh, mau lewat sisi juga boleh. BEBASSS.
Kalo kami langsung naik aja ke atas. Penasaran soalnya.
Setelah sampai, ternyata bagian dalamnya kayak gini nih..







Ada banyak patung. Di bagian paling depan akan langsung disuguhkan patung seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang sepertinya menjadi salah dua korban peristiwa Karawang - Bekasi yang ada di puisi. Bisa juga dibaca di bagian belakang patung, ada potongan puisi tersebut.

Lanjut ke dalam, kita akan menemukan sebuah ruangan sepi yang berisi patung-patung para prajurit perang yang tengah membawa senjata, ada pula yang para pahlawan berguguran, serta para relawan yang tengah menolong para korban.
Sangat mirip asli dan cukup mencekam menurut saya. Hihi. Sayang sekali banyak coretan ketika saya datang. Tulisan orang-orang kurang bertanggung jawab di bagian dinding serta kaca (padahal sudah ada peringatan).

Berkeliling keluar, di bagian sisi ada taman bunga dan rumput yang dirawat dengan baik. Ada pula pahatan di dinding yang menggambarkan peristiwa tersebut.


 
Langsung ke bagian belakang, ada apa coba tebak?
Ada pemakaman para pahlawan kita. Berubah haru biru gitu suasananya.
Semoga Allah memberkati semua pengorbanan pahlawan kita.



Esa hilang dua terbilang
Katanya
Namun bagaimana bila yang hilang itu ternyata orang yang paling kita sayang?
Akan dengan apa ia digantikan?

Bila ia tak lagi ada, akankah kita menjadi seorang yang sama
Sebab hati yang patah takkan lagi mudah berubah





Ini bukti kalo si penulis beneran ke lokasi. Hihi. Kalo ga ada fotonya ntar dibilang hoax (kan lagi musimnya). Eh pas upload foto dibilang editan. Wadooo. Wkwk.
Maaf fotonya agak salting pas ketemu patung, soalnya takuuuuut bener deh sama yang namanya patung dan sejenisnya.

Sekian dulu.

~Sincerely

a cute vylor (facebook: Lia Anggriani Pratama)

Monday, June 10, 2019

Family Journey - Leuleutikan, Purwasari, Karawang

29 Desember 2018

Keluarga gue mah kudu dikomporin dulu, baru bisa diajak jalan-jalan. Haaa.

Kami berangkat naik kereta-keretaan, persis kayak di gambar.


Satu buah kereta disewa seharga Rp400.000-an deh kalo ga salah. Bisa diisi full tiga orang dewasa untuk setiap baris. Totalnya ada lima baris. Waktu itu ada tiga keluarga yang ikut, ya alhamdulillah rame.

Destinasi pertama sampailah kami di Leuleutikan, Purwasari, Karawang.
Biaya masuknya waktu itu sih masih murah banget, Rp5000/orang dewasa, sementara untuk anak-anak masih gratis. Mungkin karena masih dalam tahap pembangunan kali ya. Denger-denger sekarang harganya naik jadi Rp10.000/orang.
Di sana ada miniatur Menara Eiffel, Monumen Singapura, Bangunan Khas Bali, kolam ikan terapi (yang gigit-gigit itu loh, tapi bukan piranha, gaes), miniatur air terjun, dan lain-lain. Ga bisa diceritain semuanya karena waktu itu masih ada, banyak banget bagian yang ditutup (kan udah dibilangin tadi ya, masih dalam tahap pembangunan).




Belum dibuka aja udah rame banget dah serius. Madettt. Gitu Bahasa Jawa Cilamaya-nya. Hihi.
Orangtua mah anteng maen celup kaki di kolam ikan terapi. Gue mah ga suka gaes, geli-geli bikin nagih gitu. Haaa becanda deh.
Anak muda mah kebagian ngasuh bocah dan jajan sambil keliling santai aja. Banyak tukang jajanan, mulai dari nyoklat sampe sosis bakar.
Selesai jajan ya tinggal makan bareng aja. Nimbel. Bawa nasi, lauk, dan air segentong. Waduh.
Orang-orang pada makan ge ya kita mah tetep ya, ngasuuuh.


Nikmati saja. Anak-anak kan titipan Tuhan dan emaknya. Hehe.

Liburan berlanjut ke lokasi Pohon Miring, Pancawati - Klari, Karawang.
Masuknya ga bayar kok. Cuma bayar parkir aja, Rp5.000/mobil.

Tapi maapin nih, ga ada fotonya, udah dihapus. Hihi.

Kita anggap saja liburannya selesai yah.
Uh, Karawang panas. Pulang hampir ashar dan tetep panas. Beruntung, tanaman kami dapat cahaya matahari secara penuh setiap tahun. Jadilah kami salah satu lumbung padi nasional. (love)


Sebab bagiku,
Rumah selalulah menjadi tempat kembali
Tempat paling dirindukan dibanding seluruh destinasi wisata yang ada di jagat raya
Peristirahatan ketika lelah bekerja
Tawarkan perlindungan dari beragam cuaca

Namun selalu ada yang lebih penting
Yakni, keluarga

Apa arti sebuah rumah tanpa pelukan maupun canda
Juga, kehangatan

~Sincerely
 a cute vlyor (facebook: Lia Anggriani Pratama)

Data Pribadi


Lia Anggriani Pratama (Facebook: Lia Anggriani Pratama)

Perempuan berusia 24 tahun yang hobi sekaligus sangat malas menulis tetapi memiliki banyak sekali yang ingin diutara-selatankan.

Sangat menyukai dia (EH), anggrek, lily, dan venus.

Hati-hati, kalau-kalau Anda patah hati, saya rasa itu bukan karena pemilik blog ini, tetapi karena harapan Anda sendiri.

Tuhan Maha Esa.
Cemburulah kepada Allah semata. Jatuh cintalah hanya kepada-NYA.

Sincerely,

~a cute vlyor